“Saya Pasti Bisa”


Sudah saatnya kita mensugesti diri kita dengan kata-kata “saya pasti bisa” semoga terwujud di kemudian hari menjadi sosok “Sang penakhluk dunia”. untuk menakhlukkan berbagai distorsi atas pemahaman Islam, meminimalkan dekadensi moral, merubah tatanan kehidupan yang kurang berIslam dan khususnya diri pribadi kita agar dapat menakhlukkan nafsu-nafsu yang merusak keIslaman kita. Untuk itu marilah kita belajar menjadi kader terbaik dambaan Allah swt dan Rasul-Nya. Memang semuanya itu sangat mudah sekali jika diwujudkan dalam angan-angan atau impian. Tapi sangat sulit sekali di realisasikan dalam kehidupan kita. Dan untuk menggapai semuanya itu, kita setidaknya harus dapat mencontoh para-para hamba Allah yang sangat berpengaruh dalam kehidupanya, yang dalam realitasnya mereka dapat membenarkan, mendidik, merubah sikap, dan memerangi kebodohan dalam masyarakatnya. Dan itu adalah perjuangan-perjuangan yang sangat berat dan melelahkan. Proses perubahanya juga tidak langsung seperti halnya pesulap memainkan sulapnya, penyihir memainkan sihirnya. Akan tetapi membutuhkan kesabaran, ketabahan, keuletan dan keajegan.

Meski ada orang yang mengatakan bahwa sang penakhluk dunia itu hanya khusus untuk Baginda Rasulullah saw. akan tetapi kita sebagai umatnya apakah tidak bisa meneruskan perjuanganya dengan merubah diri kita menjadi Nabi?. Dengan maksud, kita belajar sifat kepada beliau untuk merubah perilaku dan mencoba mengajarkan dan mengembangkanya demi agama Islam. Sudah saatnya kita bergegas meninggalkan kenikmatan-kenikmatan dunia yang sesaat dan melalaikan, berganti dengan janji Allah akan kenikmatan akhirat yang tak terhingga.

Kedatangan sang penakhluk dunia telah di butuhkan dan di tunggu-tunggu oleh mereka yang membutuhkan pertolongan. Yang di kehidupan mereka tidak pernah terisi oleh ajaran-ajaran keIslaman. Mereka telah lalai dengan apa yang menjadi kewajibannya. Sehingga moralitas umat Islam makin lama makin mrosot atau bobrok. Karena lemahnya Iman yang mereka miliki dan kurangnya motivasi kepercayaan diri.

Marilah kita memotivasi diri kita agar senantiasa memiliki kemauan yang kuat agar dapat mewujudkan cita-cita menjadi sang penakhluk dunia. Dan Dia pasti akan memberi jalan keluar bagi kita, kalau kita memang benar-benar ikhlas untuk mengembangkan dan mengimplementasikanya. Apalah daya seorang hamba jika tidak selalu meminta kepada-Nya. Oleh karenanya, jangan sampai kita mengabaikan perintah-Nya. Kita adalah komunitas manusia yang lemah dan butuh pengharapan. Dan pengharapan yang patut untuk kita akui adalah kepada Allah azza wa jalla.

Allah memberikan banyak kelebihan kepada manusia yang kadang-kadang manusia itu sendiri tidak mengetahuinya. Seperti halnya akal. Allah menjadikan manusia dengan akalnya agar manusia itu dapat berpikir dengan baik. Dengan akal, manusia dapat memilah-memilih atau membeda-bedakan, mana yang hak dan yang batil. Dan untuk apakah akal kita digunakan? Dan jawaban yang paling tepat, kami mengambil referensi dari pemikiran guru kami (al Faqir Miftahul Luthfi Muhammad) adalah, agar bisa memiliki cara berpikir yang benar dan tidak mengandalkan apa yang ada dalam pikiranya. Seseorang yang hanya mengandalkan sesuatu dalam pikiranya maka orang tersebut telah di kalahkan oleh nafsu. Untuk itu marilah kita gunakan akal kita agar senantiasa dapat memiliki cara berpikir yang benar dengan menimbang-menimbang suatu permasalahan atas dasar neraca syari’atnya Rasululullah saw.

“Dengan akalnya, manusia dapat menghancurkan segala sesuatu semaunya. Akal adalah tuhan bagi dirinya. Dan akal juga mempunyai tuhan yang dapat menghidupkan dan mematikanya.”

“Aku pasti bisa” bukanlah rangkaian tulisan yang di anggap sombong dengan membeberkan dirinya untuk menjadikan suatu kepastian. Tapi dalam konteks itu, terdapat sisipan motivasi agar diri kita senantiasa diliputi rasa optimis atau percaya diri (self confident). Itu juga bisa di akui sombong kalau realitasnya di publikasikan dalam masyarakat bahwa aku ini bisa. Tapi kata “aku pasti bisa” hanya untuk diri kami pribadi bukan untuk orang lain. Dan ini bukan menunjukkan bahwa kami merasa bisa dan sombong. tapi dengan kata itulah jiwa kami akan terasa hidup. Kesombongan seseorang tidak bisa ditebak dari suatu anggapan. Kalau dalam kenyataanya mereka tidak melakukan kesombongan maka, itu berarti kita berburuk sangka kepada saudara kita. Dan untuk perihal ghaib Rasulullah saw dalam ajaranya di utus untuk menjauhinya. Semoga saja kita di takdirkan oleh Allah menjadi orang-orang yang bisa berpikir positif (positif thinking).

Motiv pokok pada tulisan kali ini adalah kepastian agar bisa menjadi sang penakhluk dunia. Kepastian tidak akan terwujud kalau Allah tidak menghendakinya. Dan marilah kita bersama-sama belajar menyenangkan Allah dan Rasul-Nya agar kelak di kemudian hari kita di kehendaki-Nya untuk bisa menjadi hambanya yang Monomor satukan-Nya, Jujur, Ikhlas, Syukur, Sabar dan tawadlu’. Serta bisa mengimplementasikanya untuk kepentingan umat Islam.


(created by: Asawa)